KASUS INTERNASIONAL ACEH
DALAM SEJARAH HUBUNGAN ACEH DENGAN TURKI
UTSMANI DI PENTAS POLITIK INTERNASIONAL
Selama
ini, kajian tentang sejarah hubungan Aceh-Turki jarang sekali ditemukan dalam
buku-buku sejarah yang dipelajari baik di tingkat sekolah menengah maupun di
tingkat perguruan tinggi atau universitas. Sulit dibayangkan, mengapa sejarah
yang begitu agung dalam percaturan dunia politik dan peradaban luput dari
perhatian para pemimpin bangsa ini, hilang ditelan zaman; atau mungkin sengaja
dihilangkan dari lembaran sejarah bangsa Indonesia agar Aceh tidak lagi
menonjol seperti masa silam atau segera dilupakan orang tentang zaman keemasan
dan perannya dalam perjuangan bangsa.
Barangkali kinilah saatnya bagi kita untuk menelusuri kembali kisah lama
tentang keperkasaan Aceh sebagai sebuah kerajaan yang pernah eksis di bumi
Nusantara, yang dicatat dalam lembaran sejarah oleh para peneliti asing yang
tidak bersikap apriori atau tendensius terhadap kemajuan, kejayaan, dan
kontribusi Aceh kepada kelangsungan bangsa Indonesia. Bahkan, pada tataran
dunia, Aceh pernah menjadi salah satu kerajaan di antara lima kerajaan besar di
dunia. Maka, tidak salah kalau dalam forum seminar semacam ini, sejarah Aceh
dan perannya dalam panggung politik internasional ditampilkan sebagai pembuka
wawasan dan pembangkit semangat menuju masa depan. Karena keterbatasn ruang dan
waktu, maka kajian ini dibatasi pada hubungan Aceh dan Turki Utsmani antara
abad ke-16 dan 17.
Turki Utsmani: Khilafah yang Tangguh
Pendiri
dinasti ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol
dan daerah utara negeri Cina. Dalam waktu sekitar tiga abad, mereka pindah ke
Turkistan kemudian ke Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke-9
atau ke-10, yaitu ketika mereka menetap di Asia Tengah. Karena tekanan serangan
Mongol pada abad ke-13, kemudian mereka melarikan diri mencari tempat
pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk
di Dataran Tinggi Asia Kecil. Di sana, di bawah pimpinan Ertoghrul,
mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang sedang
berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat
kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia
Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka membina wilayah baru
dan memilih kota Syukud sebagai ibukota.
Setelah Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289, kepemimpinan dilanjutkan oleh
puteranya, Utsman. Putera Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri
Kerajaan Turki Utsmani. Utsman memerintah antara tahun 1290 dan 1326.
Seterusnya, kerajaan Utsmani dipimpin secara turun temurun oleh keluarga
besarnya, yang dikenal Padisyah al-Utsman. Dalam perjalanannya,
kerajaan ini mengalami pasang surut, kemajuan dan kemunduran dengan tantangan
tanpa henti. Namun, kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Utsmani
berlangsung demikian cepat. Kemajuan penting mencakup bidang kemiliteran,
pemerintahan (politik), bidang ilmu pengetahuan dan budaya, dan bidang
keagamaan.
Mengenai kekuatan militer kerajaan Utsmani mulai dibenahi dengan baik dan
teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu pasukan tempur
yang handal sudah terorganisasi sehingga strategi dan taktik tempur militer
Utsmani berjalan tanpa hambatan berarti. Bahkan, pada tahap berikutnya,
kerajaan Utsmani membentuk pasukan elit yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang
dapat mengubah negara Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan
memberikan dorongan yang amat signifikan dalam penaklukan negeri-negeri kafir
(non-muslim). Selain itu, terdapat tentara atau militer handal, Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi
dengan baik untuk memperlancar proses ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke-16
angkatan laut Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki
Utsmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang amat luas,
baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Pada saat-saat kejayaan Turki Utsmani
inilah, Kesultanan Aceh menjalin hubungan yang erat, dalam rangka melawan
dominasi penjajah di kawasan Nusantara.
Aceh di Pentas Politik Internasional
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada abad ke-16 dan 17, Kesultanan Aceh
Darussalam benar-benar menjadi pusat percaturan politik dan ekonomi yang
meliputi kawasan Nusantara dan mancanegara, seperti Tiongkok, Korea, Amerika,
Eropah, Timur Tengah, India, Afrika, dan Turki. Pada masa itu, Banda Aceh
Darussalam sebagai kota yang sangat dinamis dengan berbagai aktivitas
konstruktif yang tidak saja menyangkut politik dan ekonomi, tetapi juga
peradaban (ilmu dan kebudayaan) dan militer. Aktivitas-aktivitas ini menjadi
pusat perhatian negara-negara lain untuk berkunjung ke Aceh, dan bahkan
menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Aceh.
Untuk menangani kegiatan-kegiatan tersebut, menurut Mohammad Said, di Banda
Aceh Darussalam dibentuk lembaga yang bernama Balai Badul Muluk yang dipimpin oleh seorang menteri
yang bergelar Wazir Sultan Badlul
Muluk. Pada tataran kenegaraan, Sultan Alaiddin Ali
Mughaiyat Syah menyusun dasar-dasar politik luar negeri yang harus dijalankan
oleh Balai Badul Muluk (Kementerian
Luar Negeri), sebagai berikut:
1.
Tidak
menggantungkan nasib, ekonomi, kepada luar negeri.
2.
Bersahabat erat
dengan negara-negara Islam di Nusantara (Indonesia), India, Arab, Malaya, dan
Turki.
3.
Selalu waspada
terhadap negara-negara Barat yang mempunyai nafsu penjajahan; dan sebaliknya
bersahabat dengan negara-negara yang ingin hidup damai.
4.
Bantuan luar
negeri lebih diutamakan dalam bentuk tenaga ahli.
5.
Perluasan dakwah
Islamiyah ke seluruh kepulauan Nusantara.
Dalam percaturan politik antar negara, Kerajaan Aceh
Darussalam dapat dikatakan sebagai suatu kekuatan nyata di rantau Asia
Tenggara, baik politik, ekonomi maupun militer. Pada saat kekuatan imperialis
Barat telah mematahkan kekuatan sebagian besar negara-negara Islam lain, pada
saat itulah, yakni pada permulaan abad ke-16, lahirlah “Lima Besar Kerajaan Islam”yang
menggalang kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, militer, dan kebudayaan.
Secara historis, tulis Wilfred Cantwell Smith dalam Islam in the Modern History, Kerajaan
Aceh Darussalam termasuk dalam Lima
Besar Kerajaan Islam di dunia, yaitu:
1.
Kerajaan Islam
Turki Utsmani di Istanbul.
2.
Kerajaan Islam
Maroko di Afrika Utara.
3.
Kerajaan Islam
Isfahan di Timur Tengah.
4.
Kerajaan Islam
Mughal di India.
5.
Kerajaan Islam
Aceh Darussalam di Asia Tenggara.
Sebagai salah satu dari Lima Besar Kerajaan Islam,
Kerajaan Aceh Darussalam menjalankan politik luar negerinya dengan berpedoman
pada empat macam diplomasi yang dianutnya:
1.
Diplomasi Kancil,
kemudian dikenal dengan “tipee Aceh” (tipu Aceh) di dunia internasional.
2.
Diplomasi Meubison,
yaitu “perkawinan agung” antar negara.
3.
Diplomasi Ekonomi,
yaitu diplomasi yang didasarkan pada kekuatan ekonomi untuk mendapat pengaruh
dan mencapai tujuan politik.
4.
Diplomasi Militer,
yakni diplomasi dengan mengandalkan pada kekuatan senjata atau militer.
Keempat macam diplomasi ini dipergunakan oleh Sultan
Iskandar Muda untuk menjalankan lima pasal program politik luar negerinya,
yaitu:
1.
Menguasai
seluruh negeri dan pelabuhan yang berbatasan dengan Selat Malaka serta menetapkan
terjaminnya wibawa atas negeri itu sehingga tidak mungkin terjadi “divide
et impera” oleh negara asing.
2.
Menaklukkan
Johor supaya tidak dapat lagi ditunggangi oleh Portugis dan Belanda.
3.
Menaklukkan
negeri sebelah Timur Malaya, seperti Pahang dan Patani, yang merugikan pedagang
Aceh.
4.
Mengalahkan
Potugis dan merebut Malaka.
5.
Menaikkan harga
pasaran hasil bumi untuk ekspor dengan jalan memusatkan pelabuhan Samudra ke
satu Pelabuhan Aceh dan mengadakan pengawasan secara intensif sehingga
kepentingan kerajaan tidak dirugikan.
Kelima kebijakan politik tersebut ditempuh untuk
menghadapi bahaya agresi yang haus jajahan dari Portugis, Belanda, dan Inggris.
Berdasarkan lima kebijakan inilah Sultan Iskandar Muda, kemudian, dapat memukul
mundur Portugis yang bercokol di sepanjang Selat Malaka. Tentu saja, Sultan
Iskandar Muda dalam menghadapi Portugis, Belanda, dan Inggris tidak sendiri,
tetapi dibantu oleh negara-negara Islam pada masa itu, antar lain, Turki yang
secara aktif menopang dalam bidang persenjataan dan kemiliteran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar